1.4.a.9. Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

Durasi : 1 JP

Moda : Penugasan Mandiri

Tujuan Pembelajaran Khusus:

  • CGP memahami keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3
  • CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah

Pada tahap ini Anda diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 dan membuat sebuah koneksi antar materi yang sudah Anda pelajari. Anda akan membuat sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya. 

Bacalah panduan berikut untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut.

1. Buatlah sebuah kesimpulan mengenai mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas, restitusi, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional KHD, Nilai dan Peran Guru Penggerak, dan Visi Guru Penggerak. 



  1. 2. Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini.Setelah membuat koneksi antar materi, Anda juga diminta untuk menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah dengan mengisi Tabel Rancangan Tindakan Aksi Nyata dan mengunggahnya ke LMS:  



Judul : Budaya Positif
Nama : Hendro Nursusilo,S.Pd

A. Latar Belakang

    Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada siswa agar siswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab, kritis, dan penuh hormat.Pada intinya pemikiran Ki Hajar Dewantara, guru sebagai penuntun siswa menuju kebahagiaan dan keselamatan dengan memperhatikan kodrat anak dan kodrat zaman. Budaya positif menuntun siswa untuk melakukan hal positif sehingga dapat membentuk karakter baik yang kelak akan bermanfaat untuk mereka. 

    Dalam hal ini sekolah merupakan institusi yang berperan penting dalam pembentukan karakter siswa sebagaimana tujuan pendidikan yakni mewujudkan pelajar Indonesia yang memiliki profil pelajar pancasila.Dengan demikian, guru juga berperan penting menuntun siswa dalam pembentukan karakter ini.

 



    Langkah awal yang dilakukan untuk menciptakan budaya positif adalah dengan membuat kesepakatan kelas, dimana kesepakatan kelas ini berisi aturan-aturan yang membantu guru dan siswa bekerja sama dalam membentuk kegiatan pembelajaran yang efektif. Kesepakatan kelas bukan hanya berisi harapan guru terhadap siswa, tetapi juga harapan siswa kepada guru dan terhadap kelasnya sehingga kesepakatan kelas harus dirancang bersama antara guru dan siswa.Kesepakatan kelas harus disusun dengan jelas sehingga mudah dipahami, menggunakan kalimat positif, dan dikembangkan secara berkala.

    Untuk menciptakan budaya positif sekolah perlu adanya kolaborasi antara pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah.Membutuhkan cukup waktu yang lama untuk menciptakan budaya positif di sekolah, namun tetap harus dimulai dari sekarang meskipun saat ini dalam masa pandemi. Karena masa pandemi bukanlah suatu halangan dalam proses penerapan budaya positif di sekolah, justru pandemi menjadi tantangan bagi seorang guru untuk membuat inovasi baru untuk mencari cara bagaimana guru tetap dapat mengontrol perilaku siswa meskipun tidak bertatap muka langsung dengan siswa. 

 


    







    Sebagai guru PJOK  saya akan berkolaborasi dengan wali kelas untuk menerapkan budaya positif melalui kesepakatan kelas bersama siswa demi tercapainya perilaku positif siswa.

B. Tujuan

Adapun tujuan dalam tindakan aksi nyata ini adalah :

-Menerapkan budaya positif di kelas sehingga dapat menumbuhkan karakter baik pada siswa seperti mandiri, tanggung jawab, percaya diri, dan saling menghargai.

-Menjadi bekal pengalaman belajar bagi guru dan siswa daalam menunjukkan kepedulian, mengontrol diri sendiri dan orang lain, menjaga motivasi untuk semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di Kelas

C. Tolok Ukur

Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan ini sudah dilakukan dan untuk mengontrol kegiatan supaya tetap terarah pada tujuan yang sudah ditetapkan, maka tolok ukur yang digunakan sebagai berikut

 Terbentuknya "Keyakinan Kelas" melalui kegiatan kesepakatan kelas yang dilakukan bersama wali kelas dan siswa

Siswa dan guru konsisten dalam menjalankan keyakinan kelas yang sudah disepakati

Adanya karakter baik dalam diri siswa seperti kemandirian, tanggung jawab, percaya diri dan saling menghargai saat kegiatan pembelajaran berlangsung

Keaktifan siswa di dalam kegiatan pembelajaran baik di dalam kelas maupun luar kelas

D. Linimasa yang akan dilakukan

Supaya tindakan aksi nyata menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan yang sudah dibuat, maka saya akan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Melakukan perencanaan

Dalam hal ini saya akan membuat perencanaan kegiatan yang akan saya lakukan dalam tindakan aksi nyata ini supaya tetap berada padajalur yang sesuai dengan tujuan yang akan capai.

2. Mengkomunikasikan perencanaan kepada kepala sekolah

Supaya apa yang saya lakukan dalam tindakan aksi nyata ini diketahui oleh kepala sekolah, maka saya perlu mengkomunikasikan perencanaan ini kepada kepala sekolah. Hal ini juga saya lakukan untuk mendapat masukan dari kepala sekolah terhadap perencanaan yang saya buat.

3. Melakukan revisi perencanaan hasil konsultasi dengan kepala sekolah

Saya melakukan revisi perencanaan berdasarkan hasil konsultasi dengan kepala sekolah, hal ini saya lakukan untuk menghasilkan perencanaan yang lebih baik.

4. Melaksanakan tindakan aksi nyata

Dalam melaksanakan tindakan aksi nyata sesuai dengan apayang sudah direncanakan, yaitu:

a. Mengkomunikasikan kegiatan tindakan aksi nyata kepada wali kelas

b. Mengikuti kegiatan kesepakatan kelas bersama wali kelas dan siswa

Saya meminta izin kepada wali kelas untuk mengikuti kegiatan kesepakatan kelas, hal ini saya lakukan untuk mengetahui jalannya proses kesepakatan kelas dan hasilnya. Saya juga meminta kepada wali kelas untuk mengenalkan saya sebagai guru PJOK yang nantinya akan membantu siswa dalam mengembangkan potensinya , termasuk juga saya akan mengontrol perilaku siswa.

c. Melakukan kolaborasi dengan wali kelas untuk mengontrol perilaku siswa

Setelah kegiatan kesepakatan kelas selesai dibuat, maka saya akan berkolaborasi dengan wali kelas untuk mengontrol perilaku siswa. 

Selain itu, saya juga akan memberikan konseling individual untuk siswa yang kesulitan dalam melaksanakan kesepakatan kelas, melakukan kerjasama dengan orang tua melalui telepon ataupun secara langsung.

5. Melakukan evaluasi dan refleksi

Dalam pelaksanaan tindakan aksi nyata ini banyak tantangan yang dihadapi, maka perlu adanya evaluasi terhadap pelaksanaannya.Kemudian saya merefleksi dari hasil evaluasi ini dan memperbaikinya supaya lebih baik dikemudian hari. Saya melakukan evaluasi dengan menggunakan daftar pertanyaan yang akan saya tanyakan langsung kepada wali kelas dan rekan guru. Saya juga membuat evaluasi melalui angket yang akan saya berikan kepada siswa dan orang tua mengenai tindakan aksi nyata ini.

6. Melaporkan hasil dari kegiatan tindakan aksi nyata

Setelah melakukan tindakan aksi nyata ini dan mendapatkan hasil dari refleksi, saya akan membuat laporan sebagai pertanggungjawaban terhadap kepala sekolah dan posisi saya saat ini sebagai Calon Guru Penggerak. Laporan yang akan saya buat berupa artikel yang di dalamnya juga berisi dokumentasi.

 

E. Dukungan yang dibutuhkan

Untuk dapat mewujudkan rancangan tindakan aksi nyata, saya tidak dapat melakukan sendiri, oleh karena itu saya membutuhkan dukungan dari:

1. Stakeholder

Dalam hal ini dukungan dari kepala sekolah maupun rekan sejawat diperlukan melalui koordinasi supaya penerapan budaya positif dapat  berjalan sesuai dengan rencana.

2. Orang tua siswa

Orang tua merupakan sumber utama dalam pembentukan karakter siswa, maka diperlukan persamaan persepsi mengenai hal ini antara orang tua dan guru. Orang tua juga dapat menjadi pengontrol perilaku siswa saat di rumah dan nantinya akan berkolaborasi bersama guru untuk membahas perkembangan siswa.

3. Media yang digunakan

Media yang digunakan dalam tindakan aksi nyata ini nantinya akan memudahkan dalam penyampaian materi ataupun hal-hal yang berkaitan dengan budaya positif. Media ini dapat berupa poster, video, maupun aplikasi media sosial.

 

 Berikut adalah Video Aksi Nyata

Contoh Video Budaya Positif

 Berikut adalah Video Lokakarya ke 1 CGP Kabupaten Bireuen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts