Tampilkan postingan dengan label Modul 1.1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modul 1.1. Tampilkan semua postingan

Dasar Dasar Pendidikan



Dasar Dasar Pendidikan
1. Arti dan Masksud Pendidikan
Kata ‘Pendidikan’ dan ‘Pengajaran’ itu seringkali dipakai Bersama-sama. Sebenarnya gabungan kedua kata itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Ketahuilah, pembaca yang terhormat, bahwa sebernarnya yang dinamakan ‘pengajaran’ (onderwijs) itu merupakan salah satu bagian dari Pendidikan. Maksudnya, pengajaran itu tidak lain adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.
Sekarang saya akan menerangkan arti dan maksud Pendidikan (opvoeding) pada umumnya. Dengan sengaja saya memakai keterangan ‘pada umumnya’, karena dalam arti khususnya, Pendidikan mempunyai beragam jenis pengertian. Bisa dikatakan bahwa tiap-tiap aliran hidup, baik aliran agama maupun aliran kemasyarakatan mempunyai maksud yang berbeda. Tidak hanya maksud dan tujuannya yang berbeda-beda, cara mendidiknya juga tidak sama. Mengenai keadaan yang penting ini, saya kan menerangkan secara lebih luas.
Walaupun bermacam-macam maksud, tujuan, cara, bentuk, syarat-syarat dan alat-alat dalam soal Pendidikan, Pendidikan yang berhubungan dengan aliran-aliran hidup yang beragam itu memiliki dasar-dasar atau garis-garis yang sama.
Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang dapat kita saksikan dalam beragam jenis Pendidikan itu, Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Hanya Tuntunan dalam Hidup
Pertama kali harus diingat, bahwa Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda
2 | Sub-Module 1: Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional: Ki Hadjar Dewantara
hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa ‘kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu’ tiada lain ialah segala kekuatan yang ada dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu karena kekuasaan kodrat. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.
Uraian tersebut akan lebih jelas jika kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman pada dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat-iradatnya padi. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti hanya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya. Memang benar, ia dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodrat padi itu tetap mustahil. Demikianlah Pendidikan itu, walaupun hanya dapat ‘menuntun’, akan tetapi faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak sangatlah besar.
3. Perlukah Tuntunan Pendidikan itu?
Meskpun Pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. Andaikata anak tidak baik dasarnya, tentu anak tersebut perlu mendapatkan tuntunan agar semakin baik budi pekertinya. Anak yang dasar jiwanya tidak baik dan juga tidak mendapat tuntunan Pendidikan, tentu akan mudah menjadi orang jahat. Anak yang sudah baik dasarnya juga masih memerlukan tuntunan. Tidak saja dengan tuntunan itu ia akan mendapatkan kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan tetapi dengan adanya tuntunan itu ia dapat terlepas dari segala macam pengaruh jahat. Tidak sedikit anak-anak yang baik dasarnya, tetapi karena pengaruh-pengaruh keadaan yang buruk, kemudian menjadi orang-
3 | Sub-Module 1: Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional: Ki Hadjar Dewantara
orang jahat.
Pengaruh-pengaruh yang dimaksudkan itu ialah pengaruh yang muncul dari beragam jenis keadaan anak. Anak yang satu mungkin hidup dalam keluarga yang serba kekurangan, sehingga ditemui beragam jenis kesukaran yang menghambat kecerdasan budi anak. Bisa juga dalam keluarga itu tidak ditemui kemiskinan keduniawian, akan tetapi amat kekurangan budi luhur atau kesucian, sehingga anak-anak mudah terkena pengaruh-pengaruh yang jahat.
Menurut ilmu Pendidikan, hubungan antara dasar dan keadaan itu terdapat adanya ‘konvergensi’. Artinya, keduanya saling mempengaruhi, hingga garis dasar dan garis keadaan itu selalu tarik-menarik dan akhirnya menjadi satu.
Mengenai perlu tidaknya tuntunan dalam kehidupan manusia, sama artinya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan pada tumbuh-kembangnya tanaman. Misalnya, kalau sebutir jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak air, dan mendapatkan sinar matahari yang cukup, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah baiknya keadaan tanaman. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu (walaupun dasarnya baik), tidak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji lainnya yang juga tidak baik dasarnya.

 

1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 



1. Hal yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul 1.1 (Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara)

Sebelum membaca dan mempelajari modul 1.1 pada pelatihan calon guru penggerak ini saya percaya murid dan pembelajaran di kelas saya baik-baik saja. Mereka belajar dengan disiplin, mengerjakan tugas dengan baik, dan bisa menamatkan pendidikannya di SD dengan nilai yang baik serta mendapatkan sekolah yang lebih tinggi sesuai dengan keinginannya. Namun informasi dari teman-teman guru, dimata siswa saya guru yang galak, disiplin, dan tidak bisa diajak bercanda. Jika saya tidak ada karakter mereka banyak yang berubah, sehingga guru yang menggantikan merasa kewalahan. Dari sana saya berpikir bahwa ada masalah dengan siswa dalam kelas saya. Ada hal tersembunyi yang belum saya kupas. Saya merasa kecewa, atas anggapan sebagian besar siswa tersebut. Karena sebenarnya yang saya inginkan mereka disiplin dan rajin belajar, sehingga bisa menamatkan pendidikannya dengan baik dan membanggakan orang tua.

Setelah saya merefleksi, mungkin saya terlalu keras sehingga mereka tidak memiliki dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk belajar menjadi lebih baik, namun karena rasa takut ditegur atau dibina oleh guru. Namun saya mempunyai sebuah keyakinan bahwa kedisiplinan yang saya tanamkan akan membuahkan hasil dikemudian hari.  

Dalam proses pembelajaran di kelas sudah menerapkan model-model pembelajaran yang berpusat pada anak seperti inkuiri, discovery learning, kooperatif dan lain sebagainya, namun belum begitu sering mengingat materi yang padat serta persiapan untuk ujian kelulusan siswa kelas 6. Dalam hati merasa harus melakukan perubahan, namun di sisi lain takut kalau nilai siswa menurun dan mengecewakan orang tua.

2. Perubahan dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul 1.1 (Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara)

Perubahan dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul 1.1 ini adalah sebagai berikut :

1) Saya semakin memiliki komitmen untuk mengabdikan diri dan melayani peserta didik dengan sepenuh hati. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Nilai esensial yang harus tertanam pada seorang guru sebagai sokoguru pendidikan di Indonesia adalah berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat. Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat bengitu melekat di benak saya adalah “Ing ngarsa sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Apabila hakikat dari semboyan ini benar-benar di implementasikan dengan baik dan benar oleh diri kita, maka akan memberikan dampak positif bagi diri kita sendiri dan generasi bangsa yang akan datang.

Ing ngarso Sung Tulodo, ketika di depan memberi teladan. Hakikat dari semboyan yang pertama ini mengajak kepada guru, bahwa guru harus mampu memberikan contoh yang baik dan benar bagi siswanya, baik sikap, perbuatan maupun pola pikirnya. Apalagi seorang guru dalam kurikulum 2013 juga dituntut untuk membentuk siswa yang salah satu kompetensi intinya dapat Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Oleh karena itu, apabila guru memberikan teladan yang baik dan benar, maka perilaku siswa akan menjadi baik juga, bahkan mereka bisa jadi lebih baik dari pada kita. Dengan kata lain, seorang guru merupakan public figure yang akan dijadikan panutan siswanya, maka guru harus memiliki akhlak yang luhur.

Ing Madyo Mangun Karso, ketika di tengah memberikan semangat. Hakikat dari semboyan yang kedua ini mengajak kepada para guru, bahwa para guru haruslah berada di antara siswanya, dengan kata lain guru juga sebagai teman bagi siswanya. Dengan demikian, para guru dengan leluasa membimbing dan memberikan inspirasi kepada anak didiknya.  Sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dan nyaman bagi mereka.

Tut Wuri Handayani, ketika di belakang memberikan daya kekuatan. Hakikat dari semboyan yang ketiga ini mengajak kepada para guru untuk selalu memberikan arahan yang baik dan benar dalam kemajuan belajar siswanya. Oleh karena itu para guru dapat memotivasi anak didiknya untuk lebih giat dalam belajar. Dengan demikian, mereka merasa selalu diperhatikan dan selalu mendapat pikiran-pikiran positif dari diri gurunya. Sehingga mereka selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada kondisinya saat ini.

Ketiga semboyan ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh, seorang guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai pada siswanya. Dalam hal ini guru tidak hanya begitu saja mendorong dan mengarahkan siswanya untuk mengikuti nilai-nilai tersebut, tetapi guru juga harus memberikan contoh bagaimana nilai-nilai tersebut tertanam di dalam dirinya. Selain memberi contoh, guru juga harus mengarahkan nilai-nilai tersebut di tengah-tengah siswa dan memberi motivasi mereka untuk bertindak agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Ada satu semboyan lagi yang sangat melekat pada diri kita, yaitu Asih, Asah dan Asuh. Asih adalah mengasihi anak secara psikis agar terbentuk karakter atau jiwa yang saling menyayangi terhadap sesama. Asah adalah menajamkan intelektual atau pola pikir anak agar menjadi manusia yang cerdas dan pintar secara intelektual. Asuh adalah pemeliharaan anak secara fisik agar sehat dan kuat jasmaninya

2) Selain hal tersebut, hal yang mengubah pemikiran saya adalah salah satu filosofi Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”. Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, Ki Hajar Dewantara mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung  itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

3) Setelah membaca modul dan melakukan literasi semua bahan bacaan yang lain terkait pemikirian filosofis Ki Hajar Dewantara, saya menjadi lebih tersadar akan dasar Pendidikan anak yang berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”. Ki Hajar Dewantara mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. Pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi, sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

3. Sebagai seorang guru hal yang segera diterapkan agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah :

1) Menjadi teladan bagi siswa

2) Membuat program pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (membuat kesepakatan)

3) Menjalin kolaborasi dengan kepala sekolah, guru sejawat, dan orang tua siswa

4) Bangkit dari kebiasaan lama. Membuat hal baru dalam kelas yang dapat membangkitkan siswa untuk ingin tahu lebih mendalam berbagai hal terkait materi yang kita sampaikan. Lupakan fokus mengejar nilai yang membuat siswa terhambat untuk bereksplorasi. Belajar menjadi guru penggerak yang berani menggagas ide.

5) Menjadikan suasana belajar seperti taman bermain Suasana  belajar yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih, dan penghargaan terhadap masing-masing peserta didik. Menerapkan metode among yaitu metode yang berdasarkan pada asah, asih, dan asuh (carededicationlove). Mendesain ruangan kelas agar lebih nyaman, penuh dengan literasi untuk mendukung suasana belajar.

6) Lebih menanamkan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas dalam setiap pembelajaran






1.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pemikiran Filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam Karya

 





Durasi : 1 JP (45 menit)

Moda : Mandiri

Tujuan Pembelajaran Khusus: Peserta menuangkan pemahamannya atas pemikiran KHD dalam konteks perannya sebagai guru dan interaksinya dengan siswa dan warga sekolah.


Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak (CGP)

Anda akan membuat sebuah karya (video pendek, komik, lagu, puisi, poster, infografis dll) sebagai bentuk konkret pemahaman Anda terhadap pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara.  Karya Anda menjadi sebuah demonstrasi pemahaman Anda tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara sesuai dengan konteks kelas dan sekolah asal Anda.

Sebagai gambaran, metafora atau perlambang dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk memahami sebuah konsep yang rumit. Filosofi KHD mengenai asas Tri-Kon dapat dilambangkan sebagai sistem tata surya, di mana murid digambarkan sebagai planet yang mengorbiti matahari (simbol nilai kemanusiaan) dalam garisnya masing-masing. Setiap planet berevolusi dengan kecepatan yang berbeda-beda, namun tak pernah berhenti bergerak (Syahril, 2018).  Selain metafora, cara lain untuk mengabadikan pemahaman dan pengalaman belajar kita adalah dengan karya seni. Jadi, mengapa kita tidak menciptakan sesuatu yang menarik mengenai filosofi pendidikan KHD? Membuat lagu, puisi, gambar, poster metafora, atau karya apapun tentu akan menyenangkan.

Instruksi Penugasan:

  1. Buatlah satu karya teks atau verbal atau visual (video pendek/komik/lagu/puisi/poster/infografis) untuk menggambarkan pengetahuan dan pemahaman Anda mengenai pemikiran filosofis KHD dalam konteks Anda sebagai guru, interaksi dengan murid dan warga sekolah.
  2. Karya itu merupakan sebuah perumpamaan yang Anda gunakan sebagai wujud kontekstual pemahaman Anda terhadap pemikiran-pemikiran KHD.



Hasil Pengiriman


1.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Presentasi Kerangka Filosofis ‘Merdeka Belajar’








Pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapat setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Setelah mempelajari pemikiran-pemikiran KI Hadjar Dewantara, saya dapat menemukan pengetahuan dan pengalaman baru, di antaranya:

  • Sebagai guru harus selalu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Kita harus mengenal, menghargai budaya, serta peduli terhadap sesama
  • Menjadi guru yang selalu menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didiknya
  • Dalam menjalankan tugas pembelajaran, guru harus selalu kreatif dan inovatif
  • Selain menjadi pendidik, guru juga harus berperan aktif dalam mengikuti organisasi profesi dan sosial

Kekuatan dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini

Berdasarkan refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang telah saya pelajari, ada beberapa kekuatan yang harus diterapkan untuk pengetahuan dan pengalaman baru, antara lain:

  • Adanya sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung program yang akan dijalankan
  • Hubungan baik dengan rekan kerja satu profesi maupun rekan organisasi
  • Menggunakan fasilitas yang tersedia untuk meningkatkan proses pembelajaran
  • Mempertahankan dan memotivasi peserta didik dengan prestasi yang pernah diraih
  •  

Hal-hal yang perlu saya ubah dari diri saya agar dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini

  • Meningkatkan pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta didik
  • Mengubah hidup menjadi lebih baik dengan keluar dari zona nyaman, yang bertujuan agar selalu kreatif dan inovatif
  • Meningkatkan pengalaman dengan terus belajar agar dapat mendorong untuk menjadi lebih kreatif dalam pemikiran.
  • Membangun kebiasaan baik dengan lebih rajin untuk menguasai keterampilan dan menambah pengetahuan baru.
  • Hentikan kebiasaan yang membuang waktu dengan mengisi kegiatan yang lebih produktif
  • Mengubah hidup menjadi lebih baik dengan belajar pada yang lebih tahu dan berpengalaman

 

Perubahan konkret yang akan saya lakukan setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara?

  • Menunjukan pribadi guru sebagai tauladan, mengkonkritkan slogan Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani.
  • Melatih pendidikan sosial dan karakter anak yang dimulai dari dalam keluarga dan berkaitan dengan pembentukan karakter anak di sekolah.
  • Mengembangkan pribadi pendidik dan peserta didik melalui pembiasaan di sekolah.
  • Menciptakan  lingkungan belajar yang mendukung berpikir kritis dan pemecahan masalah untuk anak
  • Menjalin komunikasi dengan rekan guru lain, kepala sekolah, orang tua serta lingkungan masyarakat untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa

1.1.a.3. Mulai dari Diri - Refleksi Diri Tentang Pemikiran KHD

 





1.     Reflektif Kritis Pemikiran Ki Hajar Dewantara

a.     Pemikiran KHD terhadap pendidikan dan pengajaran

Bangsa Indonesia melalui generasi penerus bangsa perlu mewarisi dan merefleksikan kembali buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dalam pandangannya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara menyeluruh tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan sejati. Dasar-dasar pendidikan Barat dirasakan Ki Hadjar tidak tepat dan tidak cocok untuk mendidik generasi muda Indonesia karena pendidikan barat bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman dan ketertiban). Karakter pendidikan semacam ini dalam prakteknya merupakan suatu perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budi pekertinya karena selalu hidup di bawah paksaan/tekanan. Menurut Ki Hadjar, cara mendidik semacam itu tidak akan bisa membentuk seseorang hingga memiliki “kepribadian”. Sejalan dengan pandangan ini, pendidikan di Indonesia seyogianya memberikan rasa aman, menyenangkan, tenang, dan memberikan rasa bahagia sehingga siswa tanpa paksaan dan secara alamiah menyantap ilmu pengetahuan dengan maksimal. 

 b.    Relevansi pemikiran KHD pada konteks pendidikan Indonesia dan Sekolah

Tuntutan hidup abad ke-21 secara makro dan pemberlakuan kurikulum baru di Indonesia secara mikro menuntut pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi hidup di abad ke-21. Memasuki abad 21 kemajuan teknologi telah memasuki berbagai sendi kehidupan, termasuk pendidikan. Oleh sebab itu, perlu kiranya sebagai generasi penerus bangsa kembali membedah intisari dari konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam pandangan pendidikan multiliterasi. Pendidikan multiliterasi yang memberikan kebebasan siswa dalam berpikir, berkreasi, dan berpendapat sejalan dengan konsep pancadarma yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya pendidikan multiliterasi memiliki ciri yakni multi konsep, multi budaya, multi gaya belajar, dan multi multi modal memberikan sebuah konsep pendidikan yang memberikan kesan dan mengarahkan kepada nilai-nilai pancasila. Abad ke 21 memberikan sebuah gambaran bahwa pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). 

 c.     Pelaksanaan pemikiran KHD di Sekolah

Sejalan dengan pemikiran KHD, dengan merefleksikan kembali nilai pendidikan dalam perspektif pendidikan multiliterasi merupakan suatu wujud nyata bagi saya untuk selalu belajar dalam mengembangkan pribadi saya dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dalam menyongsong pendidikan Indonesia agar kelak Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya yakni menciptakan generasi emas 2045.


2. Harapan dan Ekspektasi

a.     Harapan Pendidik

Harapan yang ingin saya lihat pada diri saya sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini adalah saya akan mengembangkan kepribadian saya dalam pembelajaran, pembelajaran berpusat pada peserta didik, agar peserta didik merasa aman, menyenangkan, tenang, dan memberikan rasa bahagia sehingga siswa tanpa paksaan dan secara alamiah menyantap ilmu pengetahuan dengan maksimal.

b.    Harapan Peserta Didik

Harapan yang ingin saya lihat pada peserta didik saya setelah mempelajari modul ini adalah peserta didik semakin memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills).

c.     Kegiatan, materi dan manfaat

Harapan saya tentang kegiatan dan materi pada modul ini adalah bagaimana penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam praktik Pendidikan sekarang ini. Dapat bekerja sama dengan rekan sejawat. Manfaat yang akan saya peroleh yaitu dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan saya ketika melaksanakan pembelajaran pada peserta didik.

Popular Posts