JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 16

 

Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet.

Link Video Sesi Instruktur  : SESI INSTRUKTUR





 Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan  dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.


Pada Kegiatan Demontrasi Konstektual, Disini saya mempraktekkan proses coaching model TIRTa dengan rekan sejawat yakni ibu haytun Nufus yang berperan sebagai coachee. 


 Link Video Coaching Bersma Rekan Sejawat  : Demonstrasi Coaching dengan Rekan Sejawat






        Pada saat proses coaching berlangsung tantangan tersendiri bagi saya pribadi dalam mengajukan pertanyaan-pertanyan yang mampu mengindentifikasi permasalahan sehingga coachee mampu menemukan kendala yang di hadapinya. selain itu juga butuh ketrampilan dalam mengarahkan coachee untuk bisa menemukan rencana yang akan dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan yang dimiliki namun demikian Alhamdulillah proses coaching berjalan lancar dan selesai.

        Selama proses belangsung saya merasa tertantang dalam melakukan komunikasi yang asertif saya juga berupaya mengikuti beberapa tips dalam menjalankan proses coahing yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi dan saya merasa senang telah berhasil menjalankan proses coahing ini.

        Dalam proses Coaching ini banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan terutama tentang makna menuntun yang sebenarnya. jika selama ini saya beranggapan ketika murid atau rekan saya mengalami masalah dan berdiskusi dengan saya untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya biasanya saya akan ikut memikirkan dan memberikan solusinya namun dengan memahami makna coaching saya jadi paham untuk menuntun seseorang atau coachee maka yang saya perlukan adalah mengarahkan coachee tersebut dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat coachee menemukan potensi yang dimilikinya sebagai kekuatannya dalam mengatasi permasalahannya.

        Kedepan saya akan kembali berlatih untuk terus mengembangkan komunikasi yang memberdaya yang nantinya akan membantu saya dalam menerapkan coaching disekolah saya baik itu dengan rekan sejawat ataupun murid saya sehingga proses pendidikan yang berpihak pada murid dapat terwujud.

 

"Untuk mengukur seberapa kita memahami teori maka praktekkan dalam kehidupan nyata"

 

Jurnal Refleksi Minggu ke 15

 

Minggu ini tepatnya tanggal  07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator  memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA  setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan  coaching dari kasus yang ada di LMS.  setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS

 



 

Selama kegiatan sesi latihan ini berlangsung saya sangat tertantang dalam penerapan model TIRTA karena sebagai coach saya harus mampu menggali pertanyaan untuk dapat mengindetifikasi masalah dan mengarahkan potensi yang dimiliki oleh coachee untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya. Kerja sama yang baik dengan anggota kelompok saya yaitu ibu Nanawati dan ibu Nurlai sangat membantu saya dalam melakukan praktek coaching.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.

Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini  banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.

 

JURNAL MINGGGU KE 14

 




Model 1: 4F (Fakta, Perasaan, Temuan, Masa Depan)

 

peristiwa

Pada tanggal 22 november saya memulai kegiatan pembelajaran di LMS dengan kegiatan demontrasi kontektual, dimana saya belajar membuat RPP berdisferensiasi dengan menerapkan konpetensi sosial emosional. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung selama dua hari, pada hari berikutnya saya mengikuti kegiatan elaborasi Bersama dengan materi penerapan sosial emosianal dalam pembelajaran serta pengalaman pribadi berkaitan dengan pembelajaran sosial emosional (PSE), selanjutnya kegiatan di LMS berlanjut dengan koneksi antar materi, CGP diharapkan dapat dikaitkan antara materi (PSE/SEL) dengan modul sebelumnya, yaitu berkaitan dengan pemikiran ki hajar dewantara, peran dan nilai guru penggerak, visi dan misi, budaya positif serta pembelajaran yang berdiferensiasi. Dihari jumat bertepatan pada tanggal 26 november 2021 dilanjutkan dengan aksi nyata. CGP selain merancanga RPP berdisferensiasi dengan penerepan KSE juga harus diterapkan langsung dalam pembelajaran.

 

perasaan

Saya merasa belajar kali ini sangat bermanfaat secara pribadi, karena materi ini menjadi modal utama bagi guru dalam mengontrol diri serta mampu mengelola pembelajaran dengan baik dengan penerapan PSE ini (pembelajaran sosial emosional). Karena PSE ini memuat materi yang berkaitan dengan proses pembelajaran di mana belajar untuk mengelola emosi, peduli dengan sesamanya, mengenali emosi, membuat keputusan yang baik, berperilaku yang baik dan bertanggung jawab, mengembangkan perilaku yang positif, serta menghindari perilaku yang negatif. PSE merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan dan mengimplentasikan ranah kognitif, apektif dan psikomtorik dalam beadaptasi dan bersosialisai baik sebagai individu, bagian dari lingkungan dan sebagai makhluk sosial

 

Pembelajaran

Banyak yang saya dapatkan pada modul ini, walaupun sebenarnya saya sudah pernah mempelajari materi yang berkaiatan dengan kecerdasan emosional (EQ), yang berbeda dengan materi sebelumnya adalah, modul ini lebih detail dan sangat mendetail dalam menganalisis setiap masalah sehingga kita mampu menyelesaikan permasalahan yang kita alami, selain itu dipembelajaran demontrasi kontektual mengasah kemampuan saya untuk menerapkan pembelajaran soaial emosional ini, walaupun sebenarnya setiap guru pernah melakukan kegiatan ini, namun tidak muncul dalam RPP serta tidak terlalu dititik beratkan dalam pembelajaran.

penerapan

saya sendiri telah menerapkan teknik STOP pada PSE ini, dan ternyata tehknik ini sangat cocok dalam mengendalikan emosi kita dalam pembelajaran, selanjutnya berkaiatan dengan materi maindfullness juga saya menerapkan dalam keseharian saya. Dan hal ini akan saya terapkan dalam pembelajaran sehari-hari.



2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching

 


 

1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi permasalahan) yang dihadapi coachee? 

Langkah awal adalah Memberikan waktu yang seluas-luasnya dan situasi yang nyaman bagi coachee untuk mencurahkan permasalahan. Membantu coachee untuk mengenal dan menentukan tujuan coaching. Coach mengajukan pertanyaan efektif untuk menggali permasalahan yang terjadi pada diri coachee dan Mendengarkan apa yang menjadi perhatian dan keyakinan dari coachee serta Membangun komunikasi asertif dengan coachee. Coach Menggarisbawahi dari komunikasi coachee dan membantunya memahami sendiri permasalahan yang dihadapi coachee. Melakukan curah pendapat dan membantu coachee menentukan tindakan-tindakan yang memungkinkan coachee mempraktikkannya serta Mendorong coachee menggali ide dan alternative solusi dan menentukan keputusan. Coach Mendorong terciptanya sebuah rencana coachee untuk menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dicapai dalam rentang waktu yang jelas, terukur, dan spesifik sesuai kebutuhan. Coach Mendorong coachee agar bertanggung jawab atas aksi nyata yang coachee akan lakukan berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai atau rencana spesifik sesuai jadwal.

2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi (permasalahan) yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)

Memberikan keyakinan kepada coachee bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan dan membangun keakraban yang memberikan kenyamanan kepada coachee untuk berbagi keluh kesah yang dihadapi. Coach memposisikan diri sebagai pendengar aktif yang memberikan perhatiaan dan menghargai apa yang dirasakan coachee. Dan coach Membantu mengembangkan kemampuan coachee dalam mengambil keputusan, menerima feed back, dan membantu merefleksikan.

3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?

Dalam situasi dan konteks local kelas sekolah, praktek coaching model TIRTA sangat mungkin untuk diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi murid, guru dan sekolah. Tantangan utama saya mempraktikkan coaching model TIRTA adalah kemampuan komunikasi. Kemampuan komunikasi yang tidak mendominasi akan tetapi menggali serta menghormati coachee. Kemampuan komunikasi yang mampu menampilkan komunikasi yang cermat dan focus. Komunikasi yang menjadikan coach sebagai pendengar aktif dan dan penanya efektif untuk menemukan pemahaman, rencana, tindakan dan tanggung jawab.  

 

4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?

 

Seluruh warga sekolah (murid, guru, tenaga kepegawaian dan kepala sekolah) biasa menjadi patner dalam melatih praktek coaching model TIRTA. Karena kesemuanya pasti memiliki permasalahan masing-masing yang harus dihadapi dan diselesaikan. Yang paling utama adalah permasalahan murid yang menjadi focus utama. Praktik coaching yang dilakukan pada murid nantinya akan dikomunikasikan kepada seluruh warga sekolah selain murid yang dijadikan dasar dan pijakan melakukan perbaikan dalam memberikan pelayanan prima pada murid. Guru, tenaga kependidikan dan kepala sekolah berembug bersama mengambil langkah nyata untuk menjadikan data hasil coaching sebagai suatu kebijakan. Guru akan menjadi bagian dari komunitas praktisi yang akan mempraktikkan coaching model TIRTA.

JURNAL KE 13 CALON GURU PENGGERAK

 

Model 6:

Melaporkan, menanggapi, menghubungkan, menalar, merekonstruksi (5R)







 

endeskripsikan ( Pelaporan )

pada minggu ke 13  ini dimulai dengan kegiatan eksplorasi konsep yang kam1 pelajari pada tanggal 15 dan 16 November 2021, di dalam eksplorasi konsep berkaitan dengan pembelajaran sosial emosional. kami membahas berbagai kasus yang terdapat di dalam LMS, pada pembelajaran sosial emosional ini Kami membahas tentang kasus pak elink yang mengalami permasalahan pada dirinya dan siswanya sendiri, di hari rabu dan kamis tanggal 17 dan 18 November 2021 kami melakukan Vicon bersama fasilitator. di hari pertama vikon kami diberikan kesempatan untuk berkreasi dengan teman CGP lainnya secara virtual berkaitan dengan Kompetensi sosial emosional yang sudah kami laksanakan di sekolah dan yang akan kami laksanakan di sekolah, hasil diskusi tersebut kami presentasikan pada tanggal 18 November 2021 masing-masing kelompok melakukan mempresentasikan hasil diskusinya dan kami diberikan kesempatan untuk saling menanggapi hasil presentasi teman-teman lainnya pada tanggal 19 bertepatan dengan hari Jumat saya pembelajaran refleksi terbimbing. pada minggu INI yang paling menarik pembahasannya, karena sebenarnya CGP temen-temen sebenarnya sudah menerapkan di sekolahnya tetapi belum terintegrasi dalam RPP pembelajaran.

 

2.       Merespon ( Menanggapi )

Pada awal terjadinya diskusi kami belum paham apa yang akan kami lakukan. dengan diberikan bantuan oleh Fasilitator yang tentang Cara penerapan Kompetensi sosial emosional tersebut kami pelan-pelan mencoba memahami secara bersama-sama dengan teman lainnya. Dan pada akhir diskusi kami sudah menyelesaikan sebahagian besar dan kami melanjutkan mengerjakan tugas-tugas tersebut di malam hari setiap harinya. Supaya pada hari presentasi tugas kami sudah rapi kami rampungkan.

 Mengaitkan ( Berkaitan )

Sebelum saya mempelajari modul pembelajaran sosial emosi ini pernah belajar yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, yang inti dari materinya hampir sama, pada kecerdasan emosional dijelaskan kecerdasan emosional (EQ) berperan sangat penting dalam proses menghadapi kehidupan sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain. Tanpa adanya EQ, Anda tidak akan bisa menjalankan hidup sebagai individu yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena kecerdasan emosional yang tinggi dan membuat seseorang mampu menguasai 5 soft skill ini:

a)  Kesadaran Diri: Mampu mengenali emosi, kemampuan, kekuatan, kelemahan dan batasan diri. Seseorang yang memiliki kesadaran pada dirinya sendiri dapat dengan mudah mendengar, menerima, dan menjalankan kritik dari orang lain.

b)   Self Regulation: Mampu mengontrol emosi dan tindakan dengan baik sehingga jauh dari tindakan impulsif yang merugikan. Seseorang dengan regulasi diri yang tinggi, akan tahu kapan harus mengeluarkan emosinya.

c)  Motivasi: Seseorang yang cerdas secara emosional adalah orang yang dapat memotivasi dirinya sendiri. Motivasi dalam melakukan sesuatu akan datang dengan sendirinya.

D)    Empati: Empati membuat seseorang memahami dan menumbuhkan koneksi dengan orang lain secara emosional. juga akan peduli dan tulus dalam berhubungan dengan siapapun.

e)  Keterampilan Sosial: Keterampilan bernegosiasi tentu sangat penting dalam dunia pekerjaan. Dengan memiliki social skill tinggi, kita dapat memiliki kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi dengan baik.

Dengan menguasai soft skill di atas, maka kita akan memiliki hubungan yang menyenangkan di dunia pekerjaan.

4.   Menganalisis ( Penalaran )

Proses pembelajaran anak dipengaruhi oleh beberapa aspek salah satunya adalah aspek perkembangan sosial dan emosi. Aspek sosial dan emosi ini sangat berpengaruh terhadap perilaku anak baik pada dirinya, orang lain, maupun lingkungan disekitarnya. Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) ini merupakan suatu proses di mana anak-anak maupun orang dewasa dapat memahami dan mengelola emosinya, menetapkan dan mencapai tujuan yang positif, merasakan dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab (menurut CASEL).

Konsep Social Emotional Learning (SEL) ini pertama kali dikemukakan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995. Ia berpendapat bahwa pembelajaran sosial emosional ini perlu diberikan secara penuh oleh seorang guru kepada para muridnya. Menurut CASEL, ada 5 (lima) kompetensi kunci pengembangan utama dalam aspek Pembelajaran Sosial Emosional, yakni:

A.   Kesadaran Diri atau Self Awarness. Kompetensi ini mencakup beberapa kemampuan untuk mengenali secara akurat mengenai emosi, pikiran, dan nilai seseorang serta bagaimana mereka memengaruhi perilaku.  

B. Manajemen Diri atau Self Management. Kompetensi ini mencakup beberapa kemampuan untuk mengatur efektif emosi, pikiran, dan perilaku seseorang dalam berbagai situasi, mengelola stres secara, mengendalikan impuls, dan memotivasi diri sendiri. Kompetensi ini terdiri dari Kontrol impuls, Manajemen stres, Disiplin diri, Motivasi diri, Penetapan tujuan, dan Kemampuan berorganisasi.

C.      Kesadaran Sosial atau Social Awareness. Kompetensi ini mencakup kemampuan untuk mengambil perspektif dan berempati dengan orang lain, termasuk orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya. 

D.   Kemampuan Berelasi atau Keterampilan Hubungan. Kompetensi ini mencakup kemampuan untuk dapat membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan bermanfaat dengan beragam individu dan kelompok disekelilingnya. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan dengan baik, bekerja sama dengan orang lain, melawan tekanan sosial yang tidak pantas, menegosiasikan konflik secara 6 konstruktif, serta mencari dan menawarkan bantuan ketika dibutuhkan. Kompetensi ini terdiri dari Komunikasi, Keterlibatan sosial, Membangun hubungan, dan Kerja tim. 

e.   Pembuatan Keputusan yang menjawab atau Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab. Kompetensi ini mencakup kemampuan untuk membuat pilihan membangun tentang perilaku pribadi dan interaksi sosial berdasarkan standar etika, masalah keselamatan, dan norma sosial. 




5 Kompetensi sosial emosional

 

  Merancang ulang ( Merekonstruksi )

Dalam proses pembelajaran yang kita lakukan di sekolah guru terlebih dahulu harus bisa merasakan apa yang dialami oleh peserta didik. Hal ini baru bisa dilakukan oleh seorang guru apabila guru tersebut memiliki kompetensi sosial emosional yang baik. Untuk pembelajaran kedepannya Saya akan mencoba mengintegrasikan Kompetensi sosial emosional ini kedalam perangkat pembelajaran yang di dalam rpp berintegrasi Adapun yang ingin saya coba untuk masa depan, serta pengetahuan dan manajemen sosial sehingga siswa mampu dan memiliki relasi yang baik yang akan mendukungnya dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

 

JURNAL MINGGU KE 12

 

 

 

 

 




Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

1.     Connection

saya memulai kegiatan pembelajaran guru penggerak ini diawali dengan materi koneksi antar materi yang berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi serta hubungannya dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengharapkan guru mampu menerapkan budaya positif untuk mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid, hal ini ini sangat sesuai dengan peran dan nilai dari guru penggerak itu sendiri di mana guru penggerak harus melakukan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya dan harus mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. hari berikutnya materi yang berkaitan dengan aksi nyata, pada tanggal 10 November saya mulai mempelajari modul baru yang berkaitan dengan sosial emosional learning (SEL). Selanjutnya kami juga mempelajari tentang eksplorasi konsep Mandiri yang berkaitan dengan pembelajaran sosial emosional (PSE). Kompetensi sosial ini dapat diartikan sebagai penerimaan secara sosial cara berperilaku yang dapat dipelajari dan mampu berinteraksi secara efektif .

2. Challenge

Kondisi peserta didik di lapangan sangat bervariasi dalam bersikap, di sini guru harus mampu mengelola dirinya dengan baik, sehingga Materi ini mengajarkan saya untuk bersikap lebih sabar dan menggunakan pikiran yang jernih dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran. Sebelum saya mempelajari modul ini saya telah mempelajari materi yang berkaitan dengan kecerdasan IQ, EQ dan SQ sehingga materi ini tidak begitu asing lagi Bagi saya.

3. Concept

Pembelajaran Social Emotional Learning (SEL) ini merupakan suatu proses di mana anak-anak maupun orang dewasa dapat memahami dan mengelola emosinya, menetapkan dan mencapai tujuan yang positif, merasakan dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab (menurut CASEL).

Pendidikan sosial dan emosional termasuk mengajari anak-anak untuk menjadi sadar diri, sadar sosial, mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan kompeten dalam keterampilan manajemen diri dan manajemen hubungan sehingga dapat mendorong kesuksesan akademis mereka.Komponen-komponen dari Social Emotional Learning (SEL) dapat secara aplikatif dikembangkan dalam konteks pendidikan. pembelajaran sosial emosional perlu diberikan untuk kesuksesan anak terutama dalam mengembangkan pendidikan.

Menurut CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning), terdapat 5 kunci pengembangan SEL pada anak. 5 konsep Social Emotional Learning yaitu: 1. Kesadaran Diri (Self Awareness) 2. Manajemen Diri (Self Management) 3. Kesadaran Sosial (Social Awareness) 4. Kemampuan Berelasi (Relationship Skill), 5. Pembuatan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision Making)

 

4. Change

Pembelajaran social emotional learning ini dapat dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman pendidikan karakter kepada anak usia dini. Materi pada modul ini tidak hanya untuk guru penggerak saja, tetapi juga harus saya imbaskan kepada siswa saya di sekolah, salah satunya dengan memberi contoh yang baik kepada mereka yang berkaiatan dengan sikap saya dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses pembelajaran, saya juga berkeingain untuk mengimbaskan materi ini kepada rekan sejawat saya supaya mereka juga mampu menerapkan pembelaran sosial emotional ini.

 

Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

1.     Connection

8 November 2021 saya memulai kegiatan pembelajaran guru penggerak ini diawali dengan materi koneksi antar materi yang berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi serta hubungannya dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengharapkan guru mampu menerapkan budaya positif untuk mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid, hal ini ini sangat sesuai dengan peran dan nilai dari guru penggerak itu sendiri di mana guru penggerak harus melakukan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya dan harus mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. hari berikutnya materi yang berkaitan dengan aksi nyata, pada tanggal 10 November saya mulai mempelajari modul baru yang berkaitan dengan sosial emosional learning (SEL). Selanjutnya kami juga mempelajari tentang eksplorasi konsep Mandiri yang berkaitan dengan pembelajaran sosial emosional (PSE). Kompetensi sosial ini dapat diartikan sebagai penerimaan secara sosial cara berperilaku yang dapat dipelajari dan mampu berinteraksi secara efektif .

2. Challenge

Kondisi peserta didik di lapangan sangat bervariasi dalam bersikap, di sini guru harus mampu mengelola dirinya dengan baik, sehingga Materi ini mengajarkan saya untuk bersikap lebih sabar dan menggunakan pikiran yang jernih dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran. Sebelum saya mempelajari modul ini saya telah mempelajari materi yang berkaitan dengan kecerdasan IQ, EQ dan SQ sehingga materi ini tidak begitu asing lagi Bagi saya.

3. Concept

Pembelajaran Social Emotional Learning (SEL) ini merupakan suatu proses di mana anak-anak maupun orang dewasa dapat memahami dan mengelola emosinya, menetapkan dan mencapai tujuan yang positif, merasakan dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab (menurut CASEL).

Pendidikan sosial dan emosional termasuk mengajari anak-anak untuk menjadi sadar diri, sadar sosial, mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan kompeten dalam keterampilan manajemen diri dan manajemen hubungan sehingga dapat mendorong kesuksesan akademis mereka.Komponen-komponen dari Social Emotional Learning (SEL) dapat secara aplikatif dikembangkan dalam konteks pendidikan. pembelajaran sosial emosional perlu diberikan untuk kesuksesan anak terutama dalam mengembangkan pendidikan.

Menurut CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning), terdapat 5 kunci pengembangan SEL pada anak. 5 konsep Social Emotional Learning yaitu: 1. Kesadaran Diri (Self Awareness) 2. Manajemen Diri (Self Management) 3. Kesadaran Sosial (Social Awareness) 4. Kemampuan Berelasi (Relationship Skill), 5. Pembuatan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision Making)

 

4. Change

Pembelajaran social emotional learning ini dapat dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman pendidikan karakter kepada anak usia dini. Materi pada modul ini tidak hanya untuk guru penggerak saja, tetapi juga harus saya imbaskan kepada siswa saya di sekolah, salah satunya dengan memberi contoh yang baik kepada mereka yang berkaiatan dengan sikap saya dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses pembelajaran, saya juga berkeingain untuk mengimbaskan materi ini kepada rekan sejawat saya supaya mereka juga mampu menerapkan pembelaran sosial emotional ini.

 

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 11

 JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 11
MODEL : DESCRIPTION, EXAMINATION AND ARTICULATION OF LEARNING 

( DEAL )





Di minggu ini pembelajaran diawali dengan kegiatan refleksi terbimbing yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi kemudian kegiatan demonstrasi konstektual di mana kami harus menyiapkan 1 bentuk RPP berdiferensiasi sebagai bentuk pemahaman kami terhadap pembelajaran berdebar inisiasi ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan lagu rossi bersama instruktur yang pada kesempatan minggu ini diisi oleh patroli SD SMP dan SMA pada lokakarya minggu ini kami membahas tentang visi dan misi sekolah serta aksi yang akan cgp dan kepala sekolah lakukan di sekolahnya masing-masing untuk sebulan yang akan datang.






Seperti kita ketahui bersama bahwa siswa itu unik dan memiliki pengetahuan yang berbeda pengalaman yang berbeda serta gaya belajar yang berbeda Oleh karena itu guru juga harus memahami kondisi tersebut sehingga dalam pemberian pembelajaran akan lebih tepat sasarannya.

Berdasarkan hal tersebut dalam merancang pembelajaran guru harus mempertimbangkan kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh siswanya. Selama ini yang kita tahu bahwa guru masih mengajar dengan gayanya sendiri tanpa mempertimbangkan Apa yang dibutuhkan oleh peserta didiknya seharusnya guru sebelum memberikan pembelajaran harus mengetahui terlebih dahulu berkaitan dengan kesiapan minatnya serta gaya belajar siswa tersebut dengan adanya pembelajaran berdiferensiasi ini akan memberi gambaran lebih jelas berkaitan rambu-rambu yang harus dilakukan oleh guru di lingkungan tersebut.





Dari pembelajaran berdiferensiasi ini saya merencanakan untuk selalu melihat Apa yang dibutuhkan oleh peserta didik setelah mengetahui berkaitan dengan kesiapan belajarnya maka saya akan menyiapkan berbagai metode pembelajaran sehingga siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar hal ini mengharuskan saya untuk membuat media pembelajaran yang lebih inovatif atau memberikan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan sekolah tersebut yang saya ajarkan saya harus mempelajari lebih dalam lagi tentang teknologi pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran terbaru yang ada pada saat ini menurut analisis saya untuk menyentuh semua gaya belajar siswa harus harus memberikan suatu pembelajaran yang menggunakan unsur teknologi Saya juga berencana untuk membagikan kepada rekan-rekan sejawat ataupun guru lain supaya mereka sama-sama belajar ataupun posisi dalam proses pembelajaran berdiferensiasi tersebut

Modul 2.1.a.9. Koneksi Antar Materi Pembelajaran Berdiferensiasi

 





Simpang MamplamSetiap anak merupakan suatu pribadi yang unik berdasarkan karakteristiknya yang  terlahir dengan kodrat alam dan kodrat zamannya, guru hanya dapat menuntun lakunya, bukan kodratnya. Oleh sebab itu sebagai pendidik berkewajiban memastikan bahwa setiap murid mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik sesuai kebutuhan belajarnya.




    Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis oleh guru agar mampu mengakomodir seluruh kebutuhan murid yang berada di dalam kelas maupun lingkungan sekolah. Ciri-ciri dari karakteristik pembelajaran berdiferensiasi yaitu guru harus menciptakan lingkungan belajar untuk mengundang murid supaya mereka minat untuk tertarik, tujuan pembelajaran harus jelas, mengevaluasi murid, merespon kebutuhan murid, serta melaksanakan manajemen kelas secara efektif.





    Adapun tujuan pembelajaran berdiferensiasi bagi setiap murid yaitu pertumbuhan maksimum dari posisi belajar mereka saat ini. Sedangkan tujuan untuk guru yaitu semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid, dan guru harus menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat dimana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, serta untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali apabila itu berhasil untuk setiap murid. Oleh sebab itu, pada pembelajaran berdiferensiasi perlu persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat dari guru baik berupa diferensiasi konten, proses, dan produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid. Adapun dasar pemetaan kebutuhan belajar murid dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi meliputi kesiapan belajar murid, minat belajar murid, dan profil belajar murid.

    Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melaksanakan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Akan tetapi dalam melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi harus dilaksanakan secara efektif dan efisien agar murid merasa aman dan nyaman dalam belajar serta pemenuhan kebutuhan murid dapat terwujud, tidak akan ada murid yang merasa diistimewakan atau sebaliknya. Peran guru sangat penting dalam menciptakan atmosfer lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk berada dalam kondisi jauh dari rasa takut, berani dan tampil percaya diri dalam mengungkapkan ide atau pendapat, senang dalam berkolaborasi, berpartisipasi aktif dalam diskusi, menyukai tantangan atau hal-hal baru sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Guru juga perlu melakukan berbagai pendekatan terhadap konten, proses, dan produk dalam pembelajaran berdiferensiasi untuk menumbuhkan motivasi murid agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

    Guru pada saat membuat perencanaan, pelaksanaan, assessment, dan rencana tindak lanjut dalam pembelajaran berdiferensiasi, dibutuhkan pendidik yang terampil dan berkompeten sehingga mampu berkontribusi secara aktif untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maupun pembelajaran yang selalu mempertimbangkan kebutuhan belajar murid itu semua terjawab dengan pembelajaran berdiferensiasi. Demikian pula umpan balik, evaluasi, dan refleksi secara kontinyu juga terus dilakukan agar guru pun menjadi pembelajar sepanjang hayat. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan kemudahan bagi guru dalam memetakan dan mengakomodir seluruh kebutuhan murid untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang selalu berubah.

    Berbekal kekuatan yang dimiliki murid, maka kita akan lebih mudah dalam melakukan perubahan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang selalu memahami kebutuhan murid. Secara sadar disiplin positif akan tumbuh dan terbiasa dilakukan murid karena apa yang mereka lakukan dalam pembelajaran berdiferensiasi sudah diselaraskan dengan kebutuhan mereka. Mereka merasa dihargai dan diakui eksistensinya, maka mereka otomatis akan melakukan tindakan yang berbudaya positif sebagai bentuk timbal balik dari pembelajaran berdiferensiasi (Hendro Nursusilo,S.Pd)

TUGAS 2.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI

 

TUGAS 2.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI


Oleh: Hendro Nursusilo,S.Pd
Calon Guru Penggerak Kabupaten Bireuen








Kesimpulan Apa Pembelajaran Berdiferensiasi adalah suatu keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang ditujukan untuk kebutuhan murid dengan memperhatikan kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Ada 3 strategi diferensiasi, antara lain: 1. Diferensiasi konten, terkait dengan materi yang diajarkan kepada murid, media konret dan abstrak, memastikan murid dapat mengakses materi sesuai gaya belajarnya. 2. Proses diferensiasi, terkait dengan pemahaman memaknai materi yang dipelajari, dengan cara: kegiatan berjenjang, panduan pemandu atau tantangan, membuat agenda individu, memvariasikan lama waktu, mengembangkan kegiatan yang bervariasi, menggunakan pengelompokkan yang fleksible. 3. Diferensiasi produk, terkait dengan tagihan pembelajaran atau hasil karya pekerjaan murid, atau sesuatu yang ada wujudnya, seperti: tulisan/karangan/foto/video, dll.

Langkah-langkah penerapan diferensiasi 1. 2. 3. 4. 5.

Menentukan tujuan pembelajaran melakukan pemetaan belajar menentukan strategi yang akan dilakukan dan alat-alat penilaian (menggunakan diagram equalizer) Menentukan kegiatan pembelajaran: proses dan produk melakukan refleksi (meningkatkan). hal yang menjadi kekurangan dan mempertahankan hal yang menjadi kelebihan, adanya faktor pendukung dan penghambat).

Mengapa perlu diterapkan pembelajaran berdiferensiasi? Karena: 1. Kemampuan siswa berbeda dan beragam dalam hal minat, kesiapan, serta profil belajar siswa. 2. Agar pembelajaran berjalan dengan baik dan siswa menemukan kebahagiaan dan merdeka belajar guna terciptanya profil pelajar Pancasila.

Bagaimana pembelajaran diferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal? Berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar murid, guru dapat mengetahui dan memahami gaya belajar murid (auditori, visual maupun kinestetik). Solusinya guru dapat menggunakan berbagai media pembelajaran, untuk mengakomodir semua kebutuhan belajar murid.

Kaitan Antar materi modul 1 dan 2.1 Kaitan antar materi: Modul 1 menjelaskan tentang Filosofis Ki Hajar Dewantara bahwa pembelajaran harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman kodrat anak dipembelajaran berdiferensiasi juga pembelajaran berdasarkan kebutuhan anak, nilai dan peran guru penggerak, visi murid merdeka (BAGJA) , serta penerapan budaya positif di sekolah. Hal ini erat dengan modul 2.1 yang menjelaskan tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi, sehingga kebutuhan murid yang beragam dapat terpenuhi dengan baik dan tercapainya, dengan profil pelajar Pancasila dan terwujudnya cita-cita merdeka belajar.

Popular Posts