JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 16

 

Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet.

Link Video Sesi Instruktur  : SESI INSTRUKTUR





 Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan  dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.


Pada Kegiatan Demontrasi Konstektual, Disini saya mempraktekkan proses coaching model TIRTa dengan rekan sejawat yakni ibu haytun Nufus yang berperan sebagai coachee. 


 Link Video Coaching Bersma Rekan Sejawat  : Demonstrasi Coaching dengan Rekan Sejawat






        Pada saat proses coaching berlangsung tantangan tersendiri bagi saya pribadi dalam mengajukan pertanyaan-pertanyan yang mampu mengindentifikasi permasalahan sehingga coachee mampu menemukan kendala yang di hadapinya. selain itu juga butuh ketrampilan dalam mengarahkan coachee untuk bisa menemukan rencana yang akan dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan yang dimiliki namun demikian Alhamdulillah proses coaching berjalan lancar dan selesai.

        Selama proses belangsung saya merasa tertantang dalam melakukan komunikasi yang asertif saya juga berupaya mengikuti beberapa tips dalam menjalankan proses coahing yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi dan saya merasa senang telah berhasil menjalankan proses coahing ini.

        Dalam proses Coaching ini banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan terutama tentang makna menuntun yang sebenarnya. jika selama ini saya beranggapan ketika murid atau rekan saya mengalami masalah dan berdiskusi dengan saya untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya biasanya saya akan ikut memikirkan dan memberikan solusinya namun dengan memahami makna coaching saya jadi paham untuk menuntun seseorang atau coachee maka yang saya perlukan adalah mengarahkan coachee tersebut dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat coachee menemukan potensi yang dimilikinya sebagai kekuatannya dalam mengatasi permasalahannya.

        Kedepan saya akan kembali berlatih untuk terus mengembangkan komunikasi yang memberdaya yang nantinya akan membantu saya dalam menerapkan coaching disekolah saya baik itu dengan rekan sejawat ataupun murid saya sehingga proses pendidikan yang berpihak pada murid dapat terwujud.

 

"Untuk mengukur seberapa kita memahami teori maka praktekkan dalam kehidupan nyata"

 

Jurnal Refleksi Minggu ke 15

 

Minggu ini tepatnya tanggal  07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator  memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA  setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan  coaching dari kasus yang ada di LMS.  setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS

 



 

Selama kegiatan sesi latihan ini berlangsung saya sangat tertantang dalam penerapan model TIRTA karena sebagai coach saya harus mampu menggali pertanyaan untuk dapat mengindetifikasi masalah dan mengarahkan potensi yang dimiliki oleh coachee untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya. Kerja sama yang baik dengan anggota kelompok saya yaitu ibu Nanawati dan ibu Nurlai sangat membantu saya dalam melakukan praktek coaching.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.

Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini  banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.

 

Popular Posts