JURNAL MINGGGU KE 14

 




Model 1: 4F (Fakta, Perasaan, Temuan, Masa Depan)

 

peristiwa

Pada tanggal 22 november saya memulai kegiatan pembelajaran di LMS dengan kegiatan demontrasi kontektual, dimana saya belajar membuat RPP berdisferensiasi dengan menerapkan konpetensi sosial emosional. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung selama dua hari, pada hari berikutnya saya mengikuti kegiatan elaborasi Bersama dengan materi penerapan sosial emosianal dalam pembelajaran serta pengalaman pribadi berkaitan dengan pembelajaran sosial emosional (PSE), selanjutnya kegiatan di LMS berlanjut dengan koneksi antar materi, CGP diharapkan dapat dikaitkan antara materi (PSE/SEL) dengan modul sebelumnya, yaitu berkaitan dengan pemikiran ki hajar dewantara, peran dan nilai guru penggerak, visi dan misi, budaya positif serta pembelajaran yang berdiferensiasi. Dihari jumat bertepatan pada tanggal 26 november 2021 dilanjutkan dengan aksi nyata. CGP selain merancanga RPP berdisferensiasi dengan penerepan KSE juga harus diterapkan langsung dalam pembelajaran.

 

perasaan

Saya merasa belajar kali ini sangat bermanfaat secara pribadi, karena materi ini menjadi modal utama bagi guru dalam mengontrol diri serta mampu mengelola pembelajaran dengan baik dengan penerapan PSE ini (pembelajaran sosial emosional). Karena PSE ini memuat materi yang berkaitan dengan proses pembelajaran di mana belajar untuk mengelola emosi, peduli dengan sesamanya, mengenali emosi, membuat keputusan yang baik, berperilaku yang baik dan bertanggung jawab, mengembangkan perilaku yang positif, serta menghindari perilaku yang negatif. PSE merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan dan mengimplentasikan ranah kognitif, apektif dan psikomtorik dalam beadaptasi dan bersosialisai baik sebagai individu, bagian dari lingkungan dan sebagai makhluk sosial

 

Pembelajaran

Banyak yang saya dapatkan pada modul ini, walaupun sebenarnya saya sudah pernah mempelajari materi yang berkaiatan dengan kecerdasan emosional (EQ), yang berbeda dengan materi sebelumnya adalah, modul ini lebih detail dan sangat mendetail dalam menganalisis setiap masalah sehingga kita mampu menyelesaikan permasalahan yang kita alami, selain itu dipembelajaran demontrasi kontektual mengasah kemampuan saya untuk menerapkan pembelajaran soaial emosional ini, walaupun sebenarnya setiap guru pernah melakukan kegiatan ini, namun tidak muncul dalam RPP serta tidak terlalu dititik beratkan dalam pembelajaran.

penerapan

saya sendiri telah menerapkan teknik STOP pada PSE ini, dan ternyata tehknik ini sangat cocok dalam mengendalikan emosi kita dalam pembelajaran, selanjutnya berkaiatan dengan materi maindfullness juga saya menerapkan dalam keseharian saya. Dan hal ini akan saya terapkan dalam pembelajaran sehari-hari.



2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching

 


 

1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi permasalahan) yang dihadapi coachee? 

Langkah awal adalah Memberikan waktu yang seluas-luasnya dan situasi yang nyaman bagi coachee untuk mencurahkan permasalahan. Membantu coachee untuk mengenal dan menentukan tujuan coaching. Coach mengajukan pertanyaan efektif untuk menggali permasalahan yang terjadi pada diri coachee dan Mendengarkan apa yang menjadi perhatian dan keyakinan dari coachee serta Membangun komunikasi asertif dengan coachee. Coach Menggarisbawahi dari komunikasi coachee dan membantunya memahami sendiri permasalahan yang dihadapi coachee. Melakukan curah pendapat dan membantu coachee menentukan tindakan-tindakan yang memungkinkan coachee mempraktikkannya serta Mendorong coachee menggali ide dan alternative solusi dan menentukan keputusan. Coach Mendorong terciptanya sebuah rencana coachee untuk menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dicapai dalam rentang waktu yang jelas, terukur, dan spesifik sesuai kebutuhan. Coach Mendorong coachee agar bertanggung jawab atas aksi nyata yang coachee akan lakukan berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai atau rencana spesifik sesuai jadwal.

2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi (permasalahan) yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)

Memberikan keyakinan kepada coachee bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan dan membangun keakraban yang memberikan kenyamanan kepada coachee untuk berbagi keluh kesah yang dihadapi. Coach memposisikan diri sebagai pendengar aktif yang memberikan perhatiaan dan menghargai apa yang dirasakan coachee. Dan coach Membantu mengembangkan kemampuan coachee dalam mengambil keputusan, menerima feed back, dan membantu merefleksikan.

3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?

Dalam situasi dan konteks local kelas sekolah, praktek coaching model TIRTA sangat mungkin untuk diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi murid, guru dan sekolah. Tantangan utama saya mempraktikkan coaching model TIRTA adalah kemampuan komunikasi. Kemampuan komunikasi yang tidak mendominasi akan tetapi menggali serta menghormati coachee. Kemampuan komunikasi yang mampu menampilkan komunikasi yang cermat dan focus. Komunikasi yang menjadikan coach sebagai pendengar aktif dan dan penanya efektif untuk menemukan pemahaman, rencana, tindakan dan tanggung jawab.  

 

4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?

 

Seluruh warga sekolah (murid, guru, tenaga kepegawaian dan kepala sekolah) biasa menjadi patner dalam melatih praktek coaching model TIRTA. Karena kesemuanya pasti memiliki permasalahan masing-masing yang harus dihadapi dan diselesaikan. Yang paling utama adalah permasalahan murid yang menjadi focus utama. Praktik coaching yang dilakukan pada murid nantinya akan dikomunikasikan kepada seluruh warga sekolah selain murid yang dijadikan dasar dan pijakan melakukan perbaikan dalam memberikan pelayanan prima pada murid. Guru, tenaga kependidikan dan kepala sekolah berembug bersama mengambil langkah nyata untuk menjadikan data hasil coaching sebagai suatu kebijakan. Guru akan menjadi bagian dari komunitas praktisi yang akan mempraktikkan coaching model TIRTA.

Popular Posts